Cart
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa
1/ 8

Komik Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa (Ilustrasi guna Teknologi AI)

Pada tahun 1909, Terengganu terpaksa menerima kehadiran penjajah British. Tekanan daripada penjajahan British semakin agresif selepas kemangkatan Sultan Zainal Abidin III dan penasihatnya, Tok Ku Paloh.
RM15.00 MYR
RM0.00 MYR
Quantity
Only 94 left
Volume Pricing
Quantity
Price
1+
RM15.00 MYR each
Worldwide shipping available
Secure payments
Trusted packing

Tajuk :  Tok Limbong #1 - Demi Tanah Bangsa

Penulis : Syed Azharul Asriq

ISBN : 978-967-0078-77-9

Halaman  : 104

Berat : 150g

Saiz buku : 5.8” x 8.2”

Tahun terbitan :  2025 

Sinopsis :

Pada tahun 1909, Terengganu terpaksa menerima kehadiran penjajah British. Tekanan daripada penjajahan British semakin agresif selepas kemangkatan Sultan Zainal Abidin III dan penasihatnya, Tok Ku Paloh. 

 

Di bawah pemerintahan British, masyarakat petani hidup tertekan apabila British memperkenalkan undang-undang baharu penerokaan tanah pada tahun 1921. Ketika inilah, muncul seorang tokoh ulama dan pejuang rakyat – Haji Abdul Rahman Limbong. Beliau bukan sahaja seorang guru agama yang dihormati, tetapi juga seorang peguam bela yang lantang memperjuangkan nasib rakyat.

 

Komik Tok Limbong 1 merungkai perjuangan Haji Abdul Rahman Limbong menegakkan hak tanah pusaka warisan nenek moyang mereka berdasarkan hujah agama dan prinsip keadilan.